Seorang mahasiswi seksi yang terancam akan mengalami gagal ujian yang kemudian mendatangi kantor dosennya yang masih muda.
Dia melihat ke lingkungan sekitar sebentar kemudian menutup pintunya,
dan langsung berlutut di hadapan sang dosen sambil memohon.
“Pak Dosen, saya bersedia melakukan apapun agar bisa lulus ujian….”, ujarnya sambil melirik genit.
Lalu sang mahasiswi mendekat ke arah dosennya, menyibakkan rambutnya sambil menatap matanya penuh arti.
“Kalau Bapak masih belum mengerti maksud saya…Saya bersedia melakukan apapun, apa saja yang Bapak mau…”, bisik sang mahasiswi.
Dosen muda tadi membalas tatapannya, “Apapun?”
“Apapun!”, jawab sang mahasiswi secepatnya.
Suara dosen itu melembut, “Apapun?”
“Apapun….” jawab sang mahasiswi.
Akhirnya Pak dosen berbisik kepada mahasiswinya.
“Maukah kamu……… belajar?”, kata sang dosen.
Minggu, 09 Maret 2014
Wasiat Sang Suami
Ada seorang pria yang sakit keras yang di dampingi oleh istrinya di sebuah rumah sakit.
Dan nyawa pria ini tidak bisa tertolong lagi akibat penyakit yang dideritanya yang kemudian berpesan kepada istrinya apabila dirinya telah meninggal dunia.
Hadi : "Mah.. sebelum aku mati! nanti.. aku ingin berpesan padamu.."
Isteri : "Iya, bang.. apa pesan abang.."
Hadi : "Aku mau kau kawin dengan Harun... "
Isteri : "Uugh.. abang nie.. kan Harun itu musuh berat abang selama ini? Apa abang rela menyerahkan saya kepadanya..?"
Hadi : "Aku ingin dia menderita seperti yang aku alami selama 30 tahun bersamamu.."
Dan nyawa pria ini tidak bisa tertolong lagi akibat penyakit yang dideritanya yang kemudian berpesan kepada istrinya apabila dirinya telah meninggal dunia.
Hadi : "Mah.. sebelum aku mati! nanti.. aku ingin berpesan padamu.."
Isteri : "Iya, bang.. apa pesan abang.."
Hadi : "Aku mau kau kawin dengan Harun... "
Isteri : "Uugh.. abang nie.. kan Harun itu musuh berat abang selama ini? Apa abang rela menyerahkan saya kepadanya..?"
Hadi : "Aku ingin dia menderita seperti yang aku alami selama 30 tahun bersamamu.."
Tangan Penuh Tato
Suatu hari ayah Udin mengundang teman masa SMA untuk makan malam.
Temannya itu adalah bekas preman dan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan
tattoo.
Udin, yang masih kelas 5 SD, beserta ayah ibunya duduk satu meja makan saat itu.
Sejak tamu datang, Udin tidak pernah melepaskan pandangannya dari tangan teman ayahnya yang penuh tato itu. Dari matanya terlihat seakan-akan dia menyimpan tanda tanya besar.
Akhirnya dengan penuh kesopanan Udin bertanya kepada teman ayahnya itu,
"Maaf ya, Om. Apakah ibunya Om nggak pernah memberi kertas untuk menulis dan menggambar?"
Udin, yang masih kelas 5 SD, beserta ayah ibunya duduk satu meja makan saat itu.
Sejak tamu datang, Udin tidak pernah melepaskan pandangannya dari tangan teman ayahnya yang penuh tato itu. Dari matanya terlihat seakan-akan dia menyimpan tanda tanya besar.
Akhirnya dengan penuh kesopanan Udin bertanya kepada teman ayahnya itu,
"Maaf ya, Om. Apakah ibunya Om nggak pernah memberi kertas untuk menulis dan menggambar?"
Langganan:
Postingan (Atom)